Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah terpantau cenderung menguat pada perdagangan Selasa (2/4/2024), didukung oleh tanda-tanda membaiknya permintaan dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang telah memicu reli di bursa berjangka AS ke level tertinggi dalam lima bulan di sesi sebelumnya.

Per pukul 09:00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent menguat 0,41% ke posisi harga US$ 87,78 per barel, sedangkan untuk jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) bertambah 0,38% menjadi US$ 84,02 per barel.


Pada perdagangan Senin kemarin, harga minyak mentah cenderung beragam, dengan Brent ditutup turun tipis 0,07% ke US$ 87,42 per barel, sedangkan WTI menguat 0,65% ke US$ 83,71 per barel.

Kenaikan harga minyak mentah yang lebih lanjut terjadi setelah data manufaktur China dan Amerika Serikat (AS) cenderung pulih dan sudah berada di zona ekspansif.

Di AS, Institute for Supply Management (ISM) melaporkan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur meningkat menjadi 50,3 pada Maret lalu, menjadi yang tertinggi dan pertama di atas 50 sejak September 2022, dari sebelumnya di angka 47,8 pada Februari lalu.

Hal ini menunjukkan sektor manufaktur, yang sebelumnya terpukul oleh kenaikan suku bunga, mulai pulih. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.

Sedangkan di China, NBS kemarin melaporkan PMI manufaktur periode Maret 2024 naik menjadi 50,8, dari sebelumnya di angka 49,1 pada Februari lalu. Ini menjadi yang pertama kalinya sejak September 2023 di mana PMI manufaktur China terus mencatatkan kontraksi sejak periode tersebut.

Positifnya kedua data tersebut dipandang pasar sebagai indikator peningkatan permintaan minyak. Apalagi, China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, sementara AS adalah konsumen terbesar di dunia.

“Kontrak minyak berjangka AS bisa aja naik hingga pertengahan US$ 90-an, jika menembus level resistance di US$ 84,00 per barel,” kata Tony Sycamore, analis pasar IG, dikutip dari Reuters.

Terakhir kali kontrak WTI bulanan tumbuh lebih cepat mencapai level US$ 95 per barel pada Agustus 2022.

Sementara kontrak bulan depan ditutup pada US$ 83,71 per barel pada Senin kemarin, menjadi penutupan tertinggi sejak Oktober 2023.

Selain karena sektor manufaktur China dan AS yang kembali bergeliat pada Maret lalu, ketegangan di Timur Tengah yang kembali memanas juga mendongkrak kembali harga minyak dunia.

Timur Tengah kembali memanas setelah serangan Israel terhadap kedutaan Iran di Suriah menewaskan tujuh penasihat militer, di antaranya tiga komandan senior, menandai peningkatan konflik yang telah berlangsung selama hampir setengah tahun dan memicu kekhawatiran mengenai dampak yang lebih nyata terhadap pasokan minyak global.

“Sampai saat ini, pasar belum mengkhawatirkan gangguan pasokan, karena perang masih dapat diatasi. Keterlibatan Iran dapat menyebabkan pasokan minyaknya terancam,” tulis analis ANZ dalam sebuah catatan, dilansir dari Reuters.

Sementara itu, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) kan mengadakan pertemuan Komite Pemantau Bersama Tingkat Menteri (JMMC) pada Rabu besok, untuk meninjau pasar dan penerapan pengurangan produksi oleh para anggotanya.

Para anggota diperkirakan akan mempertahankan kebijakan pasokan mereka saat ini yang menyerukan pengurangan produksi secara sukarela sebesar 2,2 juta barel per hari (bph) hingga akhir kuartal kedua 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Harga Minyak Terus Turun, Efek Gencatan Senjata Hamas-Israel?


(chd/chd)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *