Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus terjadi beberapa hari terakhir berpotensi menekan daya beli masyarakat. Ujungnya, pertumbuhan ekonomi bisa tertekan.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini bertengger di level Rp 15.960/US$, lalu ke posisi Rp 15.920/US$ hingga pukul 11.40 WIB. Melemah sekitar 0,22% dari penutupan perdagangan kemarin.

Ekonom dari Universitas Diponegoro (Undip) Wahyu Widodo mengatakan tekanan terhadap daya beli masyarakat imbas pelemahan nilai tukar rupiah itu akan terjadi akibat semakin mahalnya barang-barang impor, terutama impor bahan baku.

Berdasarkan data teranyar Badan Pusat Statistik (BPS) impor bahan baku/penolong pada Februari 2024 mendominasi total impor dengan nilai mencapai US$ 13,30 miliar, diikuti impor barang modal sebesar US$ 3,27 miliar, dan barang konsumsi sebesar US$ 1,86 miliar.

“Dari sisi impor jelas yang beresiko serius adalah impor bahan baku industri (barang modal), yang kita tahu porsinya cukup besar,” kata Wahyu kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/4/2024).

Ketika impor bahan baku semakin mahal efek dari tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Wahyu mengatakan, efeknya ialah biaya produksi menjadi sangat tinggi. Terutama bagi industri-industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

“Risiko rambatannya adalah cost of production meningkat terutama di industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti chemical, TPT (tekstil dan produk tekstil), dan sebagian industri padat modal lain,” tegas Wahyu.

Saat biaya produksi industri membengkak, Wahyu mengatakan, tentu efeknya akan langsung berpengaruh terhadap harga jual. Maka barang-barang yang terdampak pelemahan nilai tukar akan mendorong inflasi yang membuat daya beli masyarakat tertekan.

“Transmisi berikutnya tentu ke harga, dan pada akhirnya adalah daya beli masyarakat, dan kita tahu kalau inflasi meningkat tajam dampak yang lebih serius adalah ke kemiskinan,” ucapnya.

Wahyu mengingatkan, efek pelemahan ini tentu tidak akan langsung berimplikasi terhadap transaksi impor, karena barang-barang impor biasanya dilakukan dengan kesepakatan berjangka. Namun, jika pelemahannya berjangka waktu lama, maka menurutnya akan pengaruh langsung ke sisi harga tadi.

“Jika pelemahan ini tidak berlangsung lama, sebenarnya tidak terlalu berisiko, karena transaksi impor dilakukan dengan agreement beberapa waktu ke depan. Namun, jika ini terus melemah, tentu risiko seperti yang tadi saya sebutkan harus diwaspadai,” ucap Wahyu.

Dengan potensi itu, Wahyu mengatakan, target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 yang telah pemerintah tetapkan di level 5,2% akan semakin sulit dicapai. Diperburuk dengan tekanan inflasi pangan yang tinggi, tercermin dari inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food mencapai 10,33% pada Maret 2022 jauh di atas angka inflasi umum 3,05%.

“Dengan kondisi itu pertumbuhan5,2% akan menjadi tantangan berat di 2024. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi akan tertekan dari melemahnya Konsumsi Rumah Tangga yang selama ini menjadi kontributor terbesar. Sementara dari sisi produksi, sektor pertanian sudah sangat melambat,” tutur Wahyu.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede pun mengakui, daya beli masyarakat saat ini tengah tertekan tercermin dari pembelian durable goods yang turun drastis seperti penjualan kendaraan bermotor baik mobil dan motor.

Data Mandiri Spending Index pun menunjukkan bahwa level indeks belanja masyarakat tengah tertekan pada Februari 2024, terutama kelompok menengah dengan level indeks 183,5 atau turun dari kisaran atas 200 pada akhir 2023. Demikian juga kelompok atas dari level atas 150 menjadi hanya 129,5.

“Tren penurunan pembelian durable goods saat ini memang menjadi indikasi dari pelemahan daya beli masyarakat, sehingga mereka cenderung menunda pembelian durable goods yang relatif mahal dan bisa ditunda,” ucap Josua.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Penyebab & Analisa Rupiah Menguat, Dolar AS Jauhi Rp16.000!


(arm/mij)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *