Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah keok di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sempat menembus level di atas Rp16.200/US$.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah pada kemarin, Selasa (16/4/2024) ditutup di angka Rp16.170/US$ yang merupakan posisi terendah sejak 6 April 2020 atau sekitar empat tahun terakhir.

Secara intraday kemarin, sekitar setengah jam setelah pembukaan rupiah terpuruk hingga menyentuh posisi Rp16.200/US$.

Ambruknya rupiah diikuti oleh tekanan dari kenaikan indeks dolar AS (DXY) yang melambung ke angka 106,31.

Kuatnya DXY ditengarai inflasi AS yang masih panas, ditambah pasar tenaga kerja ketat dan daya beli masih tinggi. Imbasnya, bank sentral AS atau the Fed potensi akan lebih lama menahan suku bunga.

Selain karena sentimen yang tidak ramah terhadap pasar, rupiah memiliki kecenderungan pelemahan setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri yang memiliki durasi lebih dari satu minggu. Dalam 10 tahun sejak 2014, rupiah menguat satu hari setelah libur hanya pada 2016,2019, dan 2023.

Untuk mengatasi pelemahan rupiah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pun buka suara.

Perry menjelaskan, pihaknya akan selalu berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar. Sederet langkah intervensi siap diluncurkan.

“BI selalu ada di pasar dan kami akan memastikan nilai tukar akan terjaga gitu, kita lakukan intervensi baik melalui spot maupun non delivery forward (NFD),” terangnya kepada wartawan usai menghadiri rapat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Jakarta.

“Kami jajakan koordinasi dengan pemerintah dengan fiskal bagaimana jaga moneter dan fiskal. Kami pastikan kami di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi,” tegas Perry.

Pasar juga sudah mulai melihat ke arah potensi BI menaikkan suku bunga acuan untuk intervensi stabilisasi rupiah bulan ini. Kemungkinan kenaikan sekitar 25bps sehingga BI rate diproyeksi naik ke 6,25℅.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, tren rupiah kini masih dalam pelemahan. Terdekat, level psikologis sekaligus high candle yang dicapai kemarin pada Rp16.200/US$ menjadi posisi yang patut diantisipasi jika tren melemah masih berlanjut.

Di sisi lain, untuk posisi support atau jika ada pembalikan arah menguat bisa perhatikan angka Rp16.045/US$ yang didapatkan dari garis rata-rata selama 20 jam atau Moving Average/MA 20.




Pergerakan rupiah melawan dolar ASFoto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan dolar AS

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Rupiah Perlahan Jauhi Level Rp15.500, Bagaimana Hari Ini?


(tsn/tsn)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *