Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Dolar AS bahkan terus menguat hingga menembus Rp 16.200 hingga pagi ini, Selasa (30/4/2024). Lembaga Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengungkapkan penyebabnya.

Direktur Departemen Asia Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, mengatakan kebijakan moneter oleh bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed), menjadi penyebab dolar terus menguat hingga menghantam mata uang di dunia termasuk rupiah.

Bank sentral AS, ujar Krishna, menunda penurunan suku bunga karena ekonomi AS masih kuat.

“Jadi poin yang ingin kami sampaikan adalah, Anda telah melihat kebijakan kebijakan moneter AS berada pada tahap di mana karena kuatnya kekuatan ekonomi AS, inflasi mengejutkan AS, dan kebijakan moneter AS, penurunan suku bunga kini ditunda,” tutur Krishna dalam konferensi pers IMF Asia.

Dia mengatakan, suku bunga acuan negara-negara kawasan ASEAN masih rendah, sementara negara maju seperti AS tingkat suku bunga acuannya cukup tinggi. Ini membuat aliran dana di dunia beralih ke negara-negara maju, dan menekan mata uang negara berkembang.

“Jadi terdapat perbedaan suku bunga yang dapat menimbulkan tantangan bagi negara-negara di kawasan ini dan poin yang saya sampaikan adalah Anda akan melihat bahwa nilai tukar ini berada di bawah tekanan. Dan penting untuk membiarkan nilai tukar menjadi penyangga terhadap guncangan sehingga Anda dapat memenuhi tujuan stabilitas harga, target keluar, dan sebagainya,” paparnya.

Bila mendengar paparan Krishna, terlihat bahwa kebijakan bunga tinggi The Fed membuat tekanan akan terus terjadi ke nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah. Apalagi The Fed masih terus menunda penurunan suku bunganya, seperti yang disampaikan Krishna.

Krishna memberikan imbau.n, agar bank sentral negara berkembang fokus memperkuat fundamental ekonomi dalam negeri.

“Saya juga menyebutkan bahwa bank sentral harus fokus pada fundamental dan apa yang mendorong kondisi dalam negeri, inflasi dalam negeri dan sebagainya, dan tidak terlalu bergantung pada apa yang dilakukan The Fed. Dan saya pikir itulah poin yang ingin kami sampaikan di sini. Jika pergerakan nilai tukar mengarah ke tingkat yang tinggi (melemah), maka mungkin ada alasan untuk mengetatkan suku bunga,” paparnya.

“Dan menurut saya, secara umum, apa yang telah kita lihat adalah bank-bank sentral di kawasan ini telah membiarkan nilai tukar bergerak seperti yang kita lihat pada tahun 2023. Dan menurut saya itulah cara yang harus dilakukan,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


IMF Ramal Resesi Global, LPS: Jangan Terlalu Percaya


(wed/wed)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *